Tafsir AI
QS Asy-Syu'ara' : 223
AI Online
Ayat Al-Qur'an
يُّلْقُوْنَ السَّمْعَ وَاَكْثَرُهُمْ كٰذِبُوْنَ ۗ
mereka menyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang-orang pendusta.
🤖
Kitabmu AI
Tafsir AI
### Penjelasan
Ayat **“يُلْقُوْنَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ”** (Al‑Qur’an 6:46) berarti: “Mereka mendengar (pesan), tetapi kebanyakan dari mereka (menjadi) orang yang berdusta.”
Dalam konteks ayat ini, firman Allah menegaskan bahwa sebagian besar orang yang mendengar wahyu tidak akan menerima kebenarannya; justru mereka lebih cenderung mengeluh dan mendungukan (membohongi) yang datang dari Allah.
### Pelajaran Utama
- **Berdosa pada pendengar** – kebanyakan orang yang mendengar wahyu justru menjadi orang yang berdusta, menandakan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering dipicu oleh keinginan untuk mempertahankan kebohongan diri.
- **Perbedaan wahyu dan ramalan** – wahyu datang melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, dibuktikan lewat logika, budi pekerti, dan kebiasaan yang mulia; sedangkan ramalan (bisikan setan kepada tukang‑tukang ramal) bersifat bohong dan tidak konsisten dengan nilai‑nilai Islam.
- **Penolakan musyrik Mekah** – orang‑orang musyrik menuduh Al‑Qur’an berasal dari bisikan setan, tetapi Allah menegaskan bahwa wahyu adalah sumber kebenaran yang bersih, berbeda dengan bisikan‑bisikan yang berdusta.
- **Peringatan atas perbuatan dosa** – menanyakan hal gaib kepada para peramal/dukun adalah perbuatan dosa yang besar, bahkan dapat mengubah status iman menjadi kafir (hadis riwayat Ahmad & Muslim).
### Rujukan
- **Al‑Qur’an** (Surah Al‑An‘am, ayat 46) – terjemahan Indonesia.
- **Tafsir Kemenag** (Kementerian Agama Republik Indonesia) – komentar atas ayat tersebut, khususnya penjelasan tentang perbandingan wahyu dengan ramalan setan.
Ayat **“يُلْقُوْنَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ”** (Al‑Qur’an 6:46) berarti: “Mereka mendengar (pesan), tetapi kebanyakan dari mereka (menjadi) orang yang berdusta.”
Dalam konteks ayat ini, firman Allah menegaskan bahwa sebagian besar orang yang mendengar wahyu tidak akan menerima kebenarannya; justru mereka lebih cenderung mengeluh dan mendungukan (membohongi) yang datang dari Allah.
### Pelajaran Utama
- **Berdosa pada pendengar** – kebanyakan orang yang mendengar wahyu justru menjadi orang yang berdusta, menandakan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering dipicu oleh keinginan untuk mempertahankan kebohongan diri.
- **Perbedaan wahyu dan ramalan** – wahyu datang melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, dibuktikan lewat logika, budi pekerti, dan kebiasaan yang mulia; sedangkan ramalan (bisikan setan kepada tukang‑tukang ramal) bersifat bohong dan tidak konsisten dengan nilai‑nilai Islam.
- **Penolakan musyrik Mekah** – orang‑orang musyrik menuduh Al‑Qur’an berasal dari bisikan setan, tetapi Allah menegaskan bahwa wahyu adalah sumber kebenaran yang bersih, berbeda dengan bisikan‑bisikan yang berdusta.
- **Peringatan atas perbuatan dosa** – menanyakan hal gaib kepada para peramal/dukun adalah perbuatan dosa yang besar, bahkan dapat mengubah status iman menjadi kafir (hadis riwayat Ahmad & Muslim).
### Rujukan
- **Al‑Qur’an** (Surah Al‑An‘am, ayat 46) – terjemahan Indonesia.
- **Tafsir Kemenag** (Kementerian Agama Republik Indonesia) – komentar atas ayat tersebut, khususnya penjelasan tentang perbandingan wahyu dengan ramalan setan.
📚 Referensi
Quran Server Kitabmu
QS Asy-Syu'ara' ayat 223
📖 Al-Qur'an
📚 Tafsir Kemenag
🤖 Kecerdasan Artifisial
🕌 Kitabmu.com