Tafsir AI
QS Al-Isra' : 31
AI Online
Ayat Al-Qur'an
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.
🤖
Kitabmu AI
Tafsir AI
### Penjelasan
Ayat ini merupakan larangan keras dari Allah untuk membunuh anak-anak karena alasan takut miskin atau jatuh dalam kefakiran. Dalam tradisi Arab Jahiliah, khususnya praktik *wa'd* (mengubur bayi perempuan hidup-hidup), anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi dan potensi aib bagi keluarga. Al-Qur'an datang meluruskan keyakinan keliru tersebut dengan menegaskan bahwa **rezeki adalah sepenuhnya kuasa Allah**, bukan ditentukan oleh jumlah tanggungan keluarga. Manusia hanya berkewajiban berusaha, sedangkan hasilnya tetap di tangan Allah. Maka membunuh anak dengan alasan takut miskin bukan hanya kekejaman, tetapi juga **buruk sangka kepada Allah** (*su'uzh-zhann billah*).
### Pelajaran Utama
- **Larangan mengakhiri nyawa manusia**, terutama karena pertimbangan ekonomi atau ketakutan akan kemiskinan.
- **Rezeki adalah milik Allah**, sehingga manusia tidak berhak memutuskan hidup orang lain dengan dalih takut tidak mampu memberi nafkah.
- **Menyia-nyiakan anak perempuan** bukan hanya bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi juga nilai kemanusiaan universal.
- **Buruk sangka kepada Allah** termasuk dosa besar, karena merasa Allah tidak akan mampu memberi rezeki.
- **Menjaga kesinambungan generasi** adalah bagian dari tujuan penciptaan manusia, dan membunuh anak berarti menentang tujuan tersebut.
- Islam sangat **memuliakan anak perempuan**, suatu hal yang sangat kontras dengan praktik Jahiliah.
### Rujukan
- **Al-Qur'an**: QS. Al-Isra' (17): 31
- **Tafsir Kemenag** (Kementerian Agama RI)
- **Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim** dari Abdullah bin Mas'ud (sebagaimana dikutip dalam Tafsir Kemenag)
Ayat ini merupakan larangan keras dari Allah untuk membunuh anak-anak karena alasan takut miskin atau jatuh dalam kefakiran. Dalam tradisi Arab Jahiliah, khususnya praktik *wa'd* (mengubur bayi perempuan hidup-hidup), anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi dan potensi aib bagi keluarga. Al-Qur'an datang meluruskan keyakinan keliru tersebut dengan menegaskan bahwa **rezeki adalah sepenuhnya kuasa Allah**, bukan ditentukan oleh jumlah tanggungan keluarga. Manusia hanya berkewajiban berusaha, sedangkan hasilnya tetap di tangan Allah. Maka membunuh anak dengan alasan takut miskin bukan hanya kekejaman, tetapi juga **buruk sangka kepada Allah** (*su'uzh-zhann billah*).
### Pelajaran Utama
- **Larangan mengakhiri nyawa manusia**, terutama karena pertimbangan ekonomi atau ketakutan akan kemiskinan.
- **Rezeki adalah milik Allah**, sehingga manusia tidak berhak memutuskan hidup orang lain dengan dalih takut tidak mampu memberi nafkah.
- **Menyia-nyiakan anak perempuan** bukan hanya bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi juga nilai kemanusiaan universal.
- **Buruk sangka kepada Allah** termasuk dosa besar, karena merasa Allah tidak akan mampu memberi rezeki.
- **Menjaga kesinambungan generasi** adalah bagian dari tujuan penciptaan manusia, dan membunuh anak berarti menentang tujuan tersebut.
- Islam sangat **memuliakan anak perempuan**, suatu hal yang sangat kontras dengan praktik Jahiliah.
### Rujukan
- **Al-Qur'an**: QS. Al-Isra' (17): 31
- **Tafsir Kemenag** (Kementerian Agama RI)
- **Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim** dari Abdullah bin Mas'ud (sebagaimana dikutip dalam Tafsir Kemenag)
📚 Referensi
Quran Server Kitabmu
QS Al-Isra' ayat 31
📖 Al-Qur'an
📚 Tafsir Kemenag
🤖 Kecerdasan Artifisial
🕌 Kitabmu.com